Meningkatkan Kompetensi Guru, Solusi Untuk Masalah Pemberhalaan Nilai Ujian
Tapi jika kita lihat dalam keseharian kita, sangatlah mudah kita menemukan hal ini. Contoh paling mudah ialah pada iklan lowongan pekerjaan. Selalu tertulis persyaratan indeks kumulatif dari pelamar pekerjaan. Perusahaan seolah-olah tidak pernah peduli, proses penilaian tesebut.
Jika segala sesuatunya dinilai dengan angka yang tertera pada ijazah, maka tidaklah salah jika makin banyak anak didik kita yang kemudian menghalalkan segala cara, untuk bisa mendapatkan nilai yang sebesar-besarnya. Termasuk diantaranya adalah dengan melakukan kecurangan-kecurangan akademis.
Praktek seperti ini sering dijumpai pada dunia pendidikan kita. Seorang murid ‘menyontek’ selama mengerjakan soal-soal pelajaran, seolah-olah sudah menjadi hal yang biasa. Kecurangan akademis seperti ini, ternyata semakin menjadi-jadi di masa pandemi ini.
Sistem pembelajaran jarak jauh secara daring, ternyata mempunyai beberapa sisi negatif. Diantaranya ialah sulitnya seorang guru mengawasi selama proses belajar mengajar.
Seorang anak didik bisa dengan mudahnya mencari jawaban dari soal-soal yang diberikan, melalui mesin pencari di internet. Bahkan, terdapat beberapa kasus dimana orang tua murid turut mendampingi dan membantu anaknya untuk bisa mengerjakan soal-soal pelajaran.
Alih-alih membantu mengawasi, para orang tua murid ini turut andil dalam proses kecurangan akademis yang terjadi. Semuanya itu dilakukan demi mendapatkan nilai yang memuaskan. Tanpa mempedulikan nilai-nilai kejujuran yang seharusnya menjadi hal yang paling penting.
Tentu saja kecurangan-kecurangan ini, membuat para guru menjadi sulit untuk mengevaluasi sampai sejauh mana, para muridnya bisa memahami pelajaran yang telah diberikan.
Lalu bagaimana solusi atas masalah tersebut? Apakah kita lebih baik menghentikan saja, proses pembelajaran jarak jauh secara daring ini? Jawabannya tentu saja adalah tidak mungkin. Biar bagaimanapun kondisinya, anak-anak ini sangat membutuhkan pendidikan yang memadai demi masa depannya.
Untuk mengatasi masalah ini, maka seorang guru harus memiliki suatu strategi pembelajaran yang tepat. Salah satunya ialah dengan mengedepankan pemberian soal yang menuntut kemampuan analisa dari muridnya.
Tipe soal seperti ini bisa ditemukan dalam bentuk soal-soal esai. Dibandingkan dengan soal-soal pilihan ganda, maka bentuk soal esai akan lebih menuntut kemampuan analisa dari seorang anak didik. Sehingga bisa dievaluasi, sampai sejauh mana pemahaman murid atas pelajaran yang telah diberikan.
Sebetulnya membuat suatu evaluasi atau penilaian atas keberhasilan akademis siswa, merupakan salah satu aspek Kompetensi Guru. Hal ini bisa dimasukkan dalam kategori Kompetensi Pedagogik.
Kompetensi Pedagogik ini mencakup aspek evaluasi, atas proses dan hasil dari suatu proses belajar mengajar, dalam kurun waktu tertentu. Selain itu faktor efektivitas pengajaran, juga menjadi salah satu aspek yang harus dilakukan evaluasi. Semua proses evaluasi ini haruslah dilakukan secara terus-menerus, agar bisa didapatkan hasil yang tepat dan terukur.
Seiring dengan tantangan yang terus berkembang, maka seorang guru haruslah bisa untuk selalu meningkatkan kompetensinya. Apalagi di tengah masa pandemi ini, masalah yang timbul menjadi semakin beragam.
Namun, tentu saja tugas guru saat ini semakin dipermudah dengan kehadiran KOCO Schools. KOCO Schools sendiri merupakan suatu Solusi Pembelajaran Terintegrasi Learning Management System (LMS Indonesia).
LMS Indonesia ini merupakan suatu Platform Mengajar, yang akan sangat memudahkan seorang Guru Abad 21, untuk menyampaikan pengajarannya secara daring. Aplikasi ini akan sangat membantu guru dalam proses belajar mengajar. Diantaranya ialah dalam hal memantau tugas-tugas yang diberikan seorang guru kepada murid-muridnya.
Namun dengan segala kemudahan tersebut, seorang guru tetap saja dituntut untuk selalu bisa meningkatkan kompetensinya. Salah satu cara yang bisa dilakukan oleh para guru untuk meningkatkan kompetensinya, ialah dengan menguasai ilmu psikologi pendidikan.
Mempelajari Ilmu Psikologi
Salah satu kelemahan mendasar dari sistem pembelajaran jarak jauh adalah, hilangnya kontak emosional antara anak didik dengan gurunya. Jika dalam pembelajaran tatap muka, seorang guru akan bisa dengan mudah memperhatikan kondisi emosional muridnya, maka sekarang hal ini sangat sulit untuk bisa dilakukan. Penggunaan aplikasi-aplikasi seperti Zoom atau Google Meet, membuat seorang guru harus bisa lebih kreatif dalam merespon murid-muridnya.
Masalah-masalah seperti ini, tentu bisa teratasi jika para guru menguasai ilmu psikologi. Mereka bisa mempelajari bahasa tubuh, intonasi suara dan raut muka murid-muridnya, untuk bisa mengetahui kondisi emosional mereka.
Para guru juga harus bisa mendekati muridnya satu persatu, agar bisa tahu metode pembelajaran seperti apa yang bisa diterapkan kepada mereka. Hal ini sangat penting, agar anak didik tidak merasa terlalu terbebani dengan pelajaran yang diberikan.
Selain itu, para guru juga harus bisa menanamkan nilai-nilai kejujuran dalam setiap proses pengajarannya. Sesuatu hal yang merupakan pondasi terpenting dalam proses pendidikan. Selain agar dapat mengurangi terjadinya kecurangan akademis, hal ini juga agar setiap anak didik bisa mengutamakan kejujuran dalam setiap fase kehidupannya.
Menjadi guru di masa New Era ini tentu tidaklah mudah. Semakin banyak tantangan yang harus dihadapi. Padahal yang namanya proses belajar mengajar, tentu tidak bisa dihentikan begitu saja. Masa depan anak didik kita ini, salah satunya adalah sangat bergantung dari bagaimana mutu pendidikan yang mereka terima saat ini.
Jika kita berbicara mutu pendidikan, maka hal ini tentu akan mencakup juga, bagaimana nilai-nilai kejujuran tersebut bisa ditanamkan dengan baik pada setiap anak didik. Dan hal ini tentunya membutuhkan kompetensi guru yang mencukupi. Semua itu, tentunya demi tercapainya masa depan yang lebih baik pada anak-anak kita.
Komentar
Posting Komentar