Terapi Plasma Kovalesen, Solusi Pandemi yang Terlupakan


Ketika pertama kali mendengar mengenai Terapi Plasma Kovalesen sebagai pengobatan alternatif untuk mengatasi pandemi Covid-19, rasanya seperti melihat secercah harapan yang membangkitkan semangat.

Di tengah suramnya hari-hari kehidupan setelah pandemi melanda, maka berita ditemukannya metode baru pengobatan menimbulkan ekstasi kegairahan baru dalam menatap masa depan.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, berita mengenai Terapi Plasma Kovalesen ini semakin kabur dan tidak jelas. Harapan akan selesainya pandemi ini, semakin sirna. Masihkah ada harapan, pada pengobatan Terapi Plasma Kovalesen?


Secercah Harapan di Tengah Pandemi 

Hal ini dimulai pada sekitar pertengahan bulan Mei yang lalu. Saat itu muncul kabar telah ditemukannya metode pengobatan Covid-19 yang baru. Sebuah kabar gembira yang disampaikan langsung oleh Presiden Joko Widodo. 

Tentu saja kabar ini seperti angin surga yang berhembus di tengah-tengah ketidakpastian, jadwal Launching vaksin-vaksin dari negeri seberang. Langsung terbesit dalam pikiran saya, bahwa pandemi ini akan segera berakhir.

Saya langsung membayangkan, akan bisa segera kembali masuk kantor. Jalan-jalan akan kembali macet. Mall-mall akan kembali buka. Dan yang lebih penting bagi saya adalah bioskop-bioskop akan kembali buka. Iya, saya emang suka sekali nonton hehehe …

Ketika itu dalam suatu wawancara, Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa telah terjadi kemajuan yang luar biasa dalam penelitian terapi plasma darah untuk pengobatan Covid-19. Bahkan saat itu Presiden mengatakan bahwa akan dilakukan uji klinis berskala besar pada beberapa rumah sakit.

Uji klinis berskala besar emang sangat diperlukan karena masih sedikit orang yang terjangkit corona, yang bisa disembuhkan. Bahkan di Amerika, penerapan teknik pengobatan ini masih menjadi kontroversi bagi sebagian tenaga medis. 

Banyaknya tenaga medis yang meragukan metode ini dikarenakan minimnya bukti-bukti kuat akan keberhasilannya. Hal ini menjadi kontroversi karena Presiden Trump menyatakan bahwa pengobatan Terapi Plasma dapat meningkatkan kemungkinan hidup pasien sampai dengan 35%.

Bahkan di Amerika sampai dengan bulan agustus 2020 lalu, telah terdapat sekitar 70 ribu pasien corona yang telah menjalani pengobatan ini. FDA bahkan menyatakan, pengobatan ini bisa meningkatan tingkat kesehatan pasien, hanya dalam waktu 3 hari perawatan saja.

  

Meredupnya Harapan

Hari lepas hari, minggu lepas minggu, dan akhirnya bulan-lepas bulan. Kabar baik mengenai Terapi Plasma hilang diterpa gelombang berita mengenai vaksin-vaksin. Vaksin lebih menjadi tumpuan harapan, baik dari pemerintah maupun masyarakat luas.

Begitu banyak jenis dan tipe vaksin yang sedang dikembangkan di seluruh dunia. Terdapat paling sedikit 80 kelompok atau perusahaan yang mencoba menemukan vaksin corona. 

Beberapa diantaranya bahkan mengklaim bahwa mereka sudah mencapai fase terakhir sebelum vaksin tersebut bisa diproduksi massal. Suatu hal yang sebetulnya cukup mengejutkan. Sebab biasanya untuk membuat satu jenis vaksin, paling tidak dibutuhkan waktu 5 tahun.  

Dan yang menggembirakan ternyata terdapat sedikitnya 5 lembaga penelitian dan universitas di Indonesia, yang mencoba mengembangkan vaksin tersebut. Hanya saja, kabarnya vaksin-vaksin merah putih buatan anak bangsa tersebut, paling cepat baru pertengahan tahun 2021 bisa diproduksi massal. 

Di satu sisi, pengembangan vaksin-vaksin tersebut membawa harapan besar untuk memutus pandemi corona ini. Masyarakat sangat menantikan datangnya obat ajaib ini. Tetapi di sisi yang lain, masyarakat seperti melupakan bahwa terdapat alternatif lain sebagai pengobatan corona.

Alternatif pengobatan seperti Terapi Plasma Kovalesen, rasanya patut juga dilirik sebagai pilihan yang menjanjikan. Selain sudah terbukti di beberapa negara, alternatif ini juga sudah tersedia pada saat ini juga.

Tentu saja seperti pepatah bilang, tidak ada gading yang tak retak. Adalah suatu kenyataan bahwa untuk mendapatkan plasma darah bukanlah hal yang mudah. Ini bisa terjadi karena tidak adanya peraturan yang mewajibkan seseorang yang baru sembuh dari penyakit ini, untuk mendonorkan plasma darahnya.

Hal ini masih ditambah protokol kesehatan yang turut mempersulit pasien untuk mendapatkan plasma darah jika membutuhkannya. Sebagai contoh, RSPAD sebagai salah satu penyedia plasma kovalesen mengharuskan adanya permintaan khusus dari rumah sakit yang pasiennya membutuhkan plasma. 

Ini artinya, setiap pasien tidak bebas untuk menentukan jenis perawatan yang mereka butuhkan. Jika ada pasien yang menghendaki perawatan dengan plasma darah, maka mereka membutuhkan persetujuan dari rumah sakit tempat mereka dirawat. 

Hal ini sebetulnya bertentangan dengan etika kedokteran. Etika kedokteran menyatakan bahwa, dokter harus menghormati hak pasien atas penentuan pilihan setelah mendapatkan penjelasan mengenai kondisinya. Sehingga pada dasarnya setiap pasien mempunyai hak otonomi pasien, yang dalam hal ini adalah memutuskan jenis perawatan kesehatan yang akan diterimanya.

Membuat keputusan mengenai masalah kesehatan, tentu bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika keputusan tersebut dapat berakibat pada hidup dan mati. Keputusan yang kita ambil, tentu dipengaruhi oleh berbagai informasi yang kita terima. Harapannya, tentu jangan sampai kita salah dalam membuat keputusan.

Menurut saya, jangan sampai kita memilih sesuatu yang belum pasti dan belum teruji penuh, dibandingkan sesuatu yang sudah terbukti benar dan teruji di lapangan.


Postingan populer dari blog ini

Meningkatkan Kompetensi Guru, Solusi Untuk Masalah Pemberhalaan Nilai Ujian

3 Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Mengadopsi Hewan Piaraan

ASUS OLED, Solusi Optimal Untuk Mendukung Proses Pembelajaran Jarak Jauh