Bahaya Menurunnya Tingkat Kecerdasan Emosional Pada Anak di Masa Pandemi
Pagi itu ketika sedang menikmati sarapan pagi, saya dikejutkan oleh suara gaduh dari sebelah rumah. Seketika itu juga saya bangun dari duduk dan menuju ke sebelah rumah. Alangkah terkejutnya saya ketika menemui keponakan sedang berkelahi dengan karibnya.
Suatu pemandangan yang sangat janggal dan aneh, karena saya sangat mengenal keponakan saya tersebut. Dia seorang anak yang lemah lembut dan santun. Bahkan cenderung penakut.
Rupanya di pagi hari itu, sang teman secara tidak sengaja telah menghabiskan kue kesayangannya. Sesuatu hal yang sebetulnya sangat remeh, karena toh masih sangat banyak kue-kue lain di kulkas.
Sore harinya, saya sempat berbincang-bincang dengan adik saya. Dia mengatakan bahwa sejak masa pandemi dan anak-anak diwajibkan untuk bersekolah di rumah, telah terjadi perubahan perilaku pada mereka. Anak-anak cenderung lebih agresif, mudah tersinggung dan cepat marah.
Perkataan adik saya ini kemudian membuat saya teringat pada beberapa hal yang terjadi belakangan ini. Yang pertama ialah kejadian di pasar sekitar sebulan yang lalu. Ketika itu secara tidak sengaja, saya menginjak kaki seorang anak.
Seorang anak kecil yang jika dilihat dari ukuran tubuhnya-pun tidak sampai separuh tubuh saya. Yang mengejutkan adalah ketika ia menghardik saya dan mengucapkan kata-kata yang tidak senonoh. Kata-kata yang seharusnya untuk anak seusianya, jangankan mengucapkan, mendengarnya pun tidaklah pantas.
Kejadian yang kedua ialah, turut sertanya anak-anak dalam demo omnibus law yang terjadi akhir-akhir ini. Demo memang menjadi hak dari setiap warga negara, tetapi jika itu kemudian berakibat pada anak-anak yang turut melakukan aksi kekerasan, bahkan vandalisme, rasanya sudah melewati batas-batas kewarasan manusia normal.
Beberapa peristiwa yang terjadi belakangan ini, membuat saya berpikir bahwa terdapat beberapa hal yang salah dalam masyarakat kita. Belum pernah terjadi sebelumnya begitu banyak peristiwa kekerasan yang melibatkan anak-anak kita.
Perilaku anak-anak kita yang cenderung lebih agresif, mudah tersinggung, dan erat berhubungan dengan segala aktivitas yang melibatkan kekerasan, merupakan tanda-tanda telah menurunnya tingkat kecerdasan emosional pada mereka.
Pada masa pandemi ini, menurunnya tingkat kecerdasan emosional pada anak semakin tinggi. Terdapat beberapa faktor yang turut andil dalam hal ini.
Faktor Lingkungan Keluarga
Keluarga merupakan sekumpulan individu-individu terdekat, yang bisa langsung berinteraksi dengan anak-anak. Keluarga bisa menjadi tempat yang ideal untuk mengayomi anak-anak tersebut.
Namun celakanya selain sisi positif diatas, keluarga juga bisa memberi efek negatif. Selama masa pandemi ini banyak sekali tekanan-tekanan eksternal yang bisa terjadi pada para orang tua.
Banyak sekali masalah baru yang timbul, yang kemudian akan menyebabkan tekanan psikis pada para orang tua. Dari mulai sulitnya transportasi harian, sampai risiko PHK yang selalu menghantui para pekerja kita saat ini.
Semua tekanan psikis ini pada akhirnya akan terbawa pulang ke rumah dan akan berisiko pada perlakuan orang tua terhadap anak-anaknya.
Pada sisi yang lain, pandemi ini mengharuskan setiap anggota keluarga untuk bisa merubah rutinitas sehari-harinya. Para orang tua harus work from home dan anak-anak harus study from home. hal ini berakibat pada semakin intensifnya mereka bertemu.
Intensitas pertemuan yang tinggi ini bisa berakibat meningkatnya risiko gesekan yang terjadi diantara mereka. Perbedaan-perbedaan pendapat bisa muncul dari hal-hal yang sebetulnya sangat sepele. Mulai dari pintu rumah yang kelupaan ditutup, sampai dengan selera makanan yang berbeda-beda. Semua itu bisa berakibat pada pertengkaran antara sesama anggota keluarga.
Pada akhirnya, keluarga yang seharusnya bisa membawa kedamaian di hati sang anak, malah menjadi neraka yang membuat anak tidak betah di rumah.
Faktor Lingkungan Sekolah
Lingkungan sekolah? Bukankah saat ini semua sekolah berlaku study from home? Lingkungan sekolah yang dimaksud disini adalah lingkungan sekolah yang memanfaatkan unsur teknologi informasi.
Aplikasi Zoom dan Google Meet sudah menjadi standar baku saat ini. Setiap hari, paling tidak selama 2-3 jam akan dipakai oleh semua murid untuk belajar melalui aplikasi tersebut.
Hanya saja terdapat beberapa kelemahan yang mendasar dari aplikasi ini. Para guru tidak bisa mengawasi dan memperhatikan muridnya secara langsung. Mereka menjadi kurang bisa merasakan, apa yang dirasakan oleh anak-anak tersebut. Sulit sekali untuk bisa menumbuhkan rasa empati, yang sebetulnya menjadi salah satu syarat suksesnya proses belajar mengajar.
Akibatnya, para murid akan merasa diperlakukan seperti robot. Mereka akan merasa sekedar dipaksa untuk menyelesaikan kurikulum yang telah ditentukan oleh sekolah.
Hal ini masih ditambah lagi dengan hilang-nya pertemuan langsung dengan teman-teman di sekolah. Berkurangnya teman pergaulan tersebut mengakibatkan mereka menjadi semakin tergantung dengan gadget. Mereka menjadi terbiasa dengan komunikasi satu arah dan tidak ada interaksi dengan sesama manusia. Pada akhirnya, anak-anak ini akan kehilangan kepekaan dan rasa empati emosionalnya.
Faktor Lingkungan Masyarakat
Lingkungan masyarakat, khususnya lingkungan di sekitar tempat tinggal akan sangat berpengaruh pada kondisi mental seorang anak. Pada dasarnya setiap anak membutuhkan dukungan psikis dari lingkungan tempat ia tinggal.
Pujian, penghargaan dan perhatian dari llingkungan sekitar akan sangat berpengaruh pada emosi anak. Perasaan untuk dihargai dan diakui, sangatlah dibutuhkan bagi perkembangan mentalnya.
Masalahnya ialah pada masa pandemi ini hubungan dengan masyarakat di sekitar kita menjadi tercerabut. Himbauan pemerintah untuk stay at home, membuat hubungan antara rumah, antara keluarga, dan antara individu di masyarakat kita menurun drastis sampai ke tingkat yang tidak terbayangkan sebelumnya.
Pada akhirnya anak-anak kita menjadi terasing dari lingkungannya. Lingkungan yang pada situasi normal, bisa menjadi pendukung yang positif bagi perkembangan kecerdasan emosionalnya.
Semakin jelas bahwa akibat dari pandemi bukan hanya terjadi pada sektor ekonomi, sosial budaya dan kesehatan saja, seperti yang selama ini sering diributkan orang. Ada hal yang sering dilupakan orang, yaitu akibat pandemi ini pada anak-anak kita.
Lebih spesifik lagi pada perkembangan kecerdasan emosional mereka. Janganlah terkejut dan heran, jika kita tidak memperhatikan kondisi ini, maka akan semakin banyak anak-anak kita yang terlibat dengan aksi-aksi kekerasan yang makin marak belakangan ini.