Generasi Laptop, Generasi Yang Semakin Tersingkir Oleh Perubahan Zaman

 


Hari masih pagi, ketika saya sudah mulai disibukkan dengan pekerjaan. Maklumlah, sebagai jurnalis olahraga media online, saya diharuskan untuk menuliskan berita-berita olahraga dengan cepat, sehingga bisa segera dibaca oleh banyak orang.

Pagi ini tidak seperti biasanya, saya tidak ditemani oleh laptop kesayangan. Sang laptop sudah dua hari, terpaksa mondok di toko service komputer karena mendadak rusak. Tanpa laptop tersebut, saya terpaksa mengandalkan smartphone, sebagai media untuk menuliskan berita. 

Tentu saja, hal ini sangat menggangu mood saya dalam menulis. Apalagi ketika saya harus menuliskan kekalahan tim sepakbola favorit saya, Manchester United, yang dikalahkan oleh Liverpool dengan skor 0-5. Betul-betul pagi yang sangat menjengkelkan sekali.

Smartphone Samsung Galaxy milik saya, sebetulnya cukup nyaman untuk dipakai sehari-hari. Smartphone yang baru saya beli sekitar 3 bulan yang lalu ini, saya beli berdasarkan informasi yang saya peroleh dari situs Carisinyal.com. Suatu situs yang berfokus pada seputar informasi untuk mencari rekomendasi gadget. Suatu informasi yang sangat berharga, sebab saya bisa mendapatkan smartphone yang sangat mendukung pekerjaan saya. Bahkan saya cukup sering menuliskan ide tulisan, sampai ke kerangka tulisan, menggunakan smartphone ini. Namun, baru sekali ini dipakai untuk menuliskan berita secara lengkap. 

Ternyata dalam realitanya, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Layar sebesar 6 inch lebih, tidaklah cukup untuk menampilkan keyboard sebesar keyboard laptop. Belum lagi, sebetulnya cukup banyak perbedaan feel, antara mengetik di keyboard laptop dengan di layar touch screen smartphone. Alhasil, cukup sulit untuk menuliskan kalimat-kalimat dalam artikel tersebut. Banyak sekali kesalahan-kesalahan ketik, yang berakibat banyaknya proses editing. Akibatnya proses menuangkan ide-ide di kepala menjadi sebuah tulisan, menjadi terhambat.

Hal ini masih ditambah lagi dengan masuknya beberapa kali notifikasi di smartphone. Mau di silent, takut yang DM sang boss atau sang pujaan hati. Bisa bahaya, kalau tidak fast response hehehe ….

Setelah berkutat sekian jam, akhirnya bisa juga diselesaikan pekerjaan pagi itu. Dengan hati yang sedikit lega, saya segera mengirimkan naskah tersebut kepada redaktur untuk diperiksa.

Kurang lebih satu jam kemudian, melalui pesan WA sang redaktur mengirim pesan yang cukup mengagetkan. “Gi, tulisan kamu kok nggak kayak biasanya sih? Selain kurang detail, terasa garing dan juga terlalu singkat. Biasanya sekitar 400an kata per artikel, sekarang cuma 300an kata”, demikian kata sang redaktur.

Segera setelah membaca pesan tersebut, saya segera memeriksa kembali tulisan tersebut. Ternyata tanpa saya sadari, redakturnya benar. Tulisannya terasa lebih padat dan to the point. Walaupun begitu, gaya bahasa yang humanis dan renyah, yang biasanya selalu menjadi ciri khas tulisan saya, terasa hilang tak berbekas.

Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Setelah melalui perenungan yang cukup mendalam, saya teringat dengan cerita seorang rekan. Rekan tersebut bercerita mengenai jurnalis-jurnalis baru di kantor kami. 

Rekan tersebut mengatakan bahwa mereka sangatlah pandai dan cepat dalam bekerja. Produktivitas mereka sangatlah luar biasa. Jika seorang jurnalis lama bisa menghasilkan 5 artikel berita per hari, maka para jurnalis baru tersebut bisa menghasilkan sampai 7 artikel per hari. Hanya saja, tulisan mereka terasa garing dan kurang humanis. Kurang lebih sama dengan hasil tulisan yang baru saja saya kerjakan.

Ternyata setelah ditanyakan lebih lanjut kepada para jurnalis baru tersebut, mereka punya kebiasaan menulis berita dengan menggunakan smartphone. Dan ternyata membuat tulisan menggunakan smartphone sudah menjadi kebiasaan di kalangan jurnalis millennial.

Kecepatan scrolling suatu halaman, copy paste suatu tulisan, dan berpindah-pindah dari satu tab ke tab lainnya dalam satu browser, dengan hanya menggunakan satu dua jari, merupakan suatu kebiasaan yang selalu mereka  lakukan.Tidak dibutuhkan lagi mouse atau trackpad, membuat tangan kita tidak perlu berpindah tempat. Dan hal ini membuat kecepatan mengetik menjadi meningkat.

Meningkatnya kecepatan mengetik, berakibat setiap tulisan mengalir dengan begitu cepatnya, sehingga tidak terjadi lagi proses pengendapan. Tidak ada lagi proses pemikiran ulang pada setiap kata, kalimat atau paragraf yang akan dan telah dituliskan. Dan hasilnya mudah ditebak, yaitu tulisan yang singkat dan padat, namun terasa garing

Lalu, apakah tulisan yang pendek dan padat itu berarti tulisan yang jelek? Ternyata jawabannya cukup mengagetkan. Menurut survey yang dilakukan oleh Maverick Indonesia, sebagian besar generasi millennial dan generasi Z mempunyai kecenderungan tidak menyukai artikel-artikel berita yang panjang. 

Generasi ini sangat berbeda dengan generasi Baby Boomers dan generasi X yang terbiasa membaca berita di koran. Koran sebagaimana dengan media cetak pada umumnya, memang lebih mampu mengakomodir artikel-artikel yang cukup panjang dan detail. 

Menulis artikel sebanyak 2000 kata di media cetak, adalah hal yang sangat umum dilakukan setiap jurnalis. Sangat berbeda dengan menulis di media online. 1000 kata per artikel pun, sudah dianggap sangat banyak. Rata-rata artikel berita olahraga pada media online, hanya berisi sekitar 300an kata.

Perubahan trend, dari media cetak ke media online ini, tentu menjadi hal yang harus diantisipasi oleh para jurnalis, praktisi komunikasi dan pengusaha media. PR terbesarnya ialah, bagaimana membuat konten berita yang kredibel, dan kemudian membawanya ke dalam ekosistem informasi generasi millennial dan generasi Z tadi. 

Pendekatan multi kanal, tampaknya tidak bisa dihindari. Dulu suatu media cetak, bisa hanya mengandalkan satu jenis media saja. Saat ini sudah merupakan hal yang umum, jika suatu portal berita online juga mempunyai kanal youtube, akun Instagram dan akun twitter. Hal ini perlu dilakukan, demi memaksimalkan datangnya traffic pengunjung ke portal berita tersebut. Dengan semakin tinggi traffic-nya, maka akan semakin tinggi juga income yang bisa didapat dari iklan.

Jika melihat hal-hal diatas, terbersit pikiran, masih adakah celah untuk para jurnalis lama seperti saya? Kami adalah para jurnalis yang masih mengandalkan kepiawaian untuk merangkai kata-kata, yang sangat bermakna dan terkesan humanis. Setiap kata, kalimat dan paragraf yang kami tulis, selalu mempunyai makna yang dalam. Selalu ada nuansa emosional di dalam setiap tulisan yang kita buat. Dan tidak hanya sekedar menyampaikan suatu berita saja. 

Seiring dengan majunya perkembangan zaman, semua itu tampaknya tidak lagi berarti. Orang tidak lagi memperhatikan dengan detail setiap makna tulisan. Tidak lagi memperhatikan peletakkan tanda-tanda baca. Semua tulisan diperlakukan layaknya direct message Whatsapp yang dikirim kepada seorang teman. Tampaknya, perubahan memang tidak terelakkan. Kita semua harus berubah, atau tidak terpakai lagi.

Postingan populer dari blog ini

Meningkatkan Kompetensi Guru, Solusi Untuk Masalah Pemberhalaan Nilai Ujian

3 Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Mengadopsi Hewan Piaraan

ASUS OLED, Solusi Optimal Untuk Mendukung Proses Pembelajaran Jarak Jauh