Peran Teknologi Dalam Mengatasi Kecurangan Akademis Selama Masa Pandemi
Hari masih pagi, ketika suasana rumah sudah ramai. Setiap anggota keluarga, sudah mulai disibukkan dengan kegiatannya masing-masing. Sejenak sebelum berangkat ke kantor, saya menyempatkan diri untuk melihat kesibukan kedua anak kami, Gael dan Phillip. Keduanya terlihat sudah sibuk mempersiapkan perangkat komputer dan HP-nya. Maklum saja sejak masa pandemi, mereka berdua terpaksa dirumahkan dalam belajar.
Namun tidak seperti biasanya, saya menjumpai hal yang cukup unik di pagi hari itu. Gael terlihat menggunakan komputer, dan masih ditambah dengan satu smartphone. Rupanya pada hari itu, ia akan menjalani ujian tengah semester disekolahnya.
Sekolahnya mewajibkan setiap murid untuk menggunakan 2 perangkat sekaligus. Satu komputer dengan internal kameranya untuk ber-zoom meeting dengan gurunya, dan satu lagi perangkat smartphone yang ditaruh dibelakang tempat duduknya.
Tentu saja, smartphone ini juga tersambung dengan aplikasi zoom. Sehingga pada saat yang bersamaan, terdapat 2 aplikasi zoom yang tersambung dengan gurunya di sekolah. Penggunaan smartphone ini bertujuan sebagai kamera pengawas, yang mencegah adanya kecurangan selama ujian.
Dengan adanya beberapa aplikasi yang mengandalkan video streaming tersebut, maka sangat dibutuhkan kestabilan dan kecepatan internet yang tinggi. Oleh karena itu, sejak awal kami memutuskan untuk mengandalkan sambungan internet cepat yang disediakan oleh provider IndiHome.
Masalah Dalam Pembelajaran Daring
Sudah menjadi rahasia umum bahwa selain mempunyai banyak sisi positif, terdapat juga beberapa sisi negatif dari diterapkannya sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) ini. Salah satu masalah yang cukup menonjol ialah, sering terjadinya kecurangan akademik.
Biasanya ini dilakukan dengan cara mencari jawaban selama ujian, melalui mesin pencari di internet. Mereka bisa melakukan itu semua, karena tidak adanya unsur pengawasan selama ujian berlangsung.
Bahkan pada beberapa kasus, ditemukan orang tua anak didik turut membantu proses kecurangan ini. Biasanya mereka ikut mendampingi dari samping, dan ikut memberikan jawaban dari soal-soal ujian anaknya.
Tentu saja nilai memuaskan yang diperoleh, tidaklah mencerminkan kemampuan anak yang sebetulnya. Guru tidak lagi bisa mengukur, sampai dimana pemahaman muridnya, terhadap materi pelajaran.
Problematika ini bisa terjadi karena pola pikir tentang pendidikan, yang masih bertumpu pada nilai ujian semata. Demi lulus ujian dengan nilai yang memuaskan, banyak orang tua murid yang sampai tega mengabaikan nilai-nilai kejujuran.
Solusi Mengurangi Kecurangan Akademik
Sebetulnya kecurangan akademik ini sudah sering terjadi sebelum masa pandemi. Sudah sangat sering ditemukan murid yang berbuat curang selama ujian berlangsung. Hanya saja, masalah kecurangan ini semakin menjadi-jadi sejak masa pandemi ini. Terutamanya sejak diberlakukannya, sistem pembelajaran jarak jauh secara daring.
Lalu bagaimana cara mengatasinya? Salah satu cara yang dicoba untuk diterapkan ialah dengan memanfaatkan teknologi. Pada saat-saat tertentu, misalnya pada saat ujian kenaikan semester, sekolah mewajibkan muridnya untuk memakai kamera pengawas, ketika mereka sedang mengerjakan soal-soal ujian. Bahkan ada beberapa sekolah yang meminjamkan kamera pengawas secara gratis kepada para muridnya.
Hanya saja, kemudian muncul masalah baru. Masalah tersebut terletak pada besarnya bandwidth yang dibutuhkan untuk menjalankan semua perangkat tersebut sekaligus. Belum lagi semua perangkat tesebut, rata-rata menjalankan aplikasi yang berbasiskan video streaming. Aplikasi seperti zoom, youtube, dan google meet, sangat membutuhkan bandwidth yang sangat besar.
Selain bandwitdh yang besar, juga dibutuhkan kestabilan internet yang tinggi. Bisa dibayangkan jika sedang mengerjakan soal ujian, tiba-tiba jaringan internetnya bermasalah. Tentu hal ini akan sangat merugikan sang murid.
Di Indonesia, gabungan antara kecepatan dan stabilitas jaringan internet yang tinggi, biasanya hanya bisa diperoleh melalui jaringan fixed broadband yang memakai kabel fiber optik. Selain itu pemilihan provider internet fixed broadband, juga sangat menentukan kualitas dari kecepatan dan stabilitas jaringan yang bisa didapat.
Pemilihan Provider Jaringan Internet
Bagi masyarakat umum, datangnya pandemi menimbulkan dilema yang cukup sulit. Di satu sisi, kebutuhan akan internet yang cepat dan stabil semakin tidak bisa diabaikan. Tetapi di sisi yang lain, begitu banyaknya penyedia jasa jaringan internet, membuat semakin sulit untuk menjatuhkan pilihan.
Padahal kesalahan dalam memilih provider, bisa berakibat cukup fatal. Hal ini karena pada masa pandemi, semakin banyak aspek dalam kehidupan kita yang bergantung pada jaringan internet.
Mulai dari pendidikan anak, belanja kebutuhan sehari-hari, menjalankan pekerjaan kantor di rumah, bahkan sampai melakukan eSilaturahmi pada hari raya. Semuanya itu membutuhkan jaringan internet yang cepat dan stabil.
Dari sekian banyak perusahaan penyedia jasa internet di Indonesia, IndiHome merupakan pemain utama di bidang ini. Perusahaan dengan tagline Aktivitas Tanpa Batas ini, sangat mengandalkan jaringan fiber optik-nya dalam menjalankan bisnisnya
Pada awalnya IndiHome dikenal orang sebagai internetnya untuk gamer. Hal ini antara lain disebabkan oleh karena pengukuran nilai latency-nya yang sangat baik. Pengukuran ini dilakukan dengan aplikasi Speedtest Intelligence dari Okla. Selain itu IndiHome melalui academy eSport nya, telah meluncurkan program Lead by Indihome yang bertujuan mendukung perkembangan eSport di Indonesia.
Namun seiring dengan berjalannya waktu, IndiHome mulai meluaskan pasarnya sampai kepada 8,15 juta pelanggan pada kuartal pertama 2021. Ini membuat perusahaan yang sahamnya dimiliki oleh PT Telkom Indonesia ini, menjadi raja internetnya Indonesia di pasar penyedia jasa internet fixed broadband.
Sebagai perusahaan dengan jaringan internet terluas di Indonesia, IndiHome juga banyak berperan dalam dunia pendidikan. Perusahaan ini menyediakan paket-paket khusus untuk pelajar, dengan harga yang terjangkau.
Walaupun harganya terjangkau, tetapi paket yang disediakan sangatlah berkualitas. Dengan bandwidth di kisaran 20 Mbps dan 30 Mbps, sangatlah mencukupi untuk mendukung proses belajar mengajar.
Dengan bandwidth sebesar itu, maka sangatlah memungkinkan untuk menjalankan beberapa perangkat sekaligus. Ini artinya, sangatlah dimungkinkan untuk menjalankan perangkat seperti kamera pengawas tambahan, untuk meminimalkan terjadinya kecurangan akademik.
Kecurangan akademik memang merupakan salah satu masalah selama pandemi. Selama pencapaian nilai masih menjadi hal yang utama, maka potensi terjadinya ketidakjujuran sangatlah besar.
Padahal kejujuran merupakan fondasi utama bagi setiap anak didik dalam menapaki masa depannya. Bapak proklamator kita Moch. Hatta pernah berkata, “Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar, kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur sulit diperbaiki.”
Kata- kata beliau tersebut, nampaknya masih sangat relevan jika dikaitkan dengan dunia pendidikan kita saat ini. Segala wujud kecurangan akademis, haruslah dikikis habis demi masa depan bangsa yang lebih baik. Dan bisa dipastikan, IndiHome dengan jaringannya yang luas, akan turut andil dalam mewujudkan cita-cita bangsa yang mulia tersebut.
Komentar
Posting Komentar