Pelatihan Jurnalisme Bersertifikasi Online, Langkah Awal Menuju Dunia Kepenulisan

Pelatihan Jurnalisme Bersertifikasi Online
"Gi, dipanggil bu Rieska, tuh!!!”
demikian seru Bardi temanku. Sontak, mata seisi ruangan menatapku dengan perasaan iba. Yah, bu Rieska adalah pimpinan HRD di kantor kami. Dan jika pihak HRD memanggil, maka artinya hanya satu di masa pandemi ini, yaitu PHK. 

Tidak terasa, di akhir bulan April 2020 ini, pandemi sudah berjalan hampir 2 bulan. Dan kantor kami, seperti juga kantor-kantor perusahaan lainnya, mulai terimbas dengan kondisi ini. Pengetatan mulai dilakukan di semua departemen, termasuk diantaranya adalah PHK terhadap karyawan perusahaan.

Siang itu, rupanya menjadi neraka kecil bagiku. Ruangan HRD yang sejuk karena AC yang dingin, seolah tak mampu mendinginkan perasaan galau yang menerpa hatiku. Langsung teringat, rupa wajah istri dan anak-anak di rumah. Rasanya tak terbayangkan, bagaimana bisa memenuhi kebutuhan mereka di hari-hari mendatang.

Perasaanku ini seolah mewakili perasaan dari ribuan karyawan dan buruh lainnya, yang menerima kabar pemecatan mereka di masa pandemi ini. Hal ini masih diperburuk lagi dengan kenyataan bahwa, sangatlah sulit untuk mencari pekerjaan pengganti di masa pandemi ini.

Sepanjang jalan menuju rumah, aku berpikir keras, bagaimana caranya menyampaikan kabar buruk ini kepada istriku. Selain itu tentu saja, bagaimana caranya mencari penghasilan alternatif. Semua itu berkecamuk dalam pikiranku, ketika tiba-tiba saja HP ku berdengung. 

Seketika aku angkat, dan terdengar suara bu Rieska di seberang, “Gi, lusa kamu ke kantor ya. Kamu dan beberapa orang yang kena PHK, langsung ngisi formulir online buat kartu Pra Kerja.” 

Pembicaraan singkat melalui HP dengan bu Rieska, kemudian ditindaklanjuti dengan pengisian formulir online untuk pembuatan kartu Pra Kerja tersebut. Rupanya hal tersebut merupakan salah satu inisiatif perusahaan, untuk mengurangi beban karyawan yang terkena PHK.

Setelah beberapa hari menunggu, akhirnya kami menerima kabar bahwa permohonan kami akan Kartu Pra Kerja telah diterima. Bagi kami, kabar ini seperti oase ditengah padang gurun. Namun kemudian, masalah baru muncul.

Masalah tersebut adalah pelatihan apa yang harus kami pilih. Setelah berpikir cukup lama, saya teringat dengan hobby lama yang sudah hampir saya lupakan. 

“Menulis,” pikirku. Ya, walaupun tidak punya latar belakang pendidikan jurnalistik, tetapi menulis adalah hobby yang sudah cukup lama terpendam. Teringat olehku, masa-masa di SMA dulu. Ketika itu saya cukup aktif menulis untuk majalah dinding sekolah..

Tanpa pikir panjang lagi, segera kubuka dashboard akun Pra Kerja. Ternyata cukup banyak pilihan #KursusOnline menulis yang tersedia. Dari sekian banyak #PelatihanPrakerja, perhatianku tertarik dengan pelatihan Menjadi Jurnalis Profesional, yang diselenggarakan oleh Arkademi. 


Pelatihan Jurnalisme Bersertifikasi Online
Pelatihan Sertifikasi Online

Arkedemi adalah suatu lembaga kursus yang menyediakan kursus secara online dari website, maupun dari mobile app. Fleksibilitas belajar yang ditawarkan ini, membuat kita bisa belajar dimanapun juga, selama tersedia smartphone yang terhubung dengan internet. Hal ini sangat penting, terlebih di masa pandemi ini, dimana sistem belajar tatap muka, sangat sulit dilakukan.

Selain fleksibilitas belajar yang ditawarkan, sebetulnya ada hal lain yang menyebabkan saya tertarik mengikuti kelas Menjadi Jurnalis Profesional ini. Adalah suatu kebetulan yang menarik, bahwa kelas ini digawangi oleh Pepih Nugraha.

Siapapun yang tertarik dengan dunia jurnalistik, tentu sudah tidak asing lagi dengan nama yang satu ini. Selain dikenal sebagai founder dari Kompasiana, beliau juga telah menerbitkan beberapa buku yang cukup dikenal dikalangan para blogger di tanah air.

“Kapan lagi, bisa belajar langsung dari kang Pepih,” begitu pikirku ketika itu. Tanpa ragu, langsung saja aku putuskan untuk mengambil kursus itu. 

Namun pada awalnya, saya sebetulnya cukup kesulitan untuk mengikuti kelas ini. Maklum saja, saya tidak mempunyai latar belakang pendidikan di bidang jurnalistik. Hal ini membuat terkadang cukup sulit, untuk memahami istilah-istilah dalam dunia jurnalistik ini. 

Oleh sebab itu, setiap video materi pembahasan, biasanya saya perlu mengulangi sampai 3-4 kali agar bisa memahaminya. Meskipun begitu, saya cukup tertolong dengan durasi video yang tidak terlalu lama. Hal ini membuat proses belajar menjadi tidak terlalu melelahkan.

Setelah mengikuti seluruh pelajaran, dan lulus dari semua pre-test dan post-test, akhirnya saya bisa menyelesaikan kursus ini. Nilai yang didapat ialah 90.

“Lumayanlah, untuk orang yang nggak punya latar belakang jurnalisme,” begitu pikirku ketika itu, sambil tersenyum lebar. Apalagi bagi setiap siswa yang lulus, diberikan sertifikat kelulusan. Tentu ini merupakan hal yang cukup membanggakan sekali.


Menulis di Media Online

Dengan berbekal ilmu jurnalistik yang diperoleh dari kursus tersebut, saya mulai mencoba menulis beberapa artikel. Artikel-artikel tersebut, kemudian saya coba publish di beberapa media online. Harapannya ialah untuk membuat semacam portofolio kepenulisan.

Terdapat beberapa media yang memperbolehkan freelance writer untuk mengisi kolom artikel mereka. Beberapa media, seperti Detik, Jawa Pos, Mojok, Kumparan dan Opini, bahkan mempunyai kolom tersendiri yang ditujukan untuk para penulis lepas ini. 

Pada mulanya, cukup sulit untuk bisa menembus proses editorial dari media-media tersebut. Namun seiring dengan berjalannya waktu, saya mulai menemukan tips-tips yang cukup ampuh dalam menembus meja redaksi tersebut.

Masalah isi artikel dengan berita-berita yang sedang trend di masyarakat, menjadi hal yang sangat penting. Selain itu, kita juga harus memperhatikan karakter dari setiap media online tersebut. Kita kemudian harus menyesuaikan tulisan yang kita buat, dengan karakter media yang bersangkutan. Sebagai contoh, tulisan untuk Detik yang berkarakter serius, tentu akan sangat berbeda dengan Mojok yang berkarakter cenderung lebih santai.

Tentunya semua tulisan yang dimuat, terlebih dahulu telah melalui saringan yang ketat dari para redaktur mereka. Namun jika berhasil dimuat, beberapa diantara media tersebut, memberikan bayaran yang cukup lumayan.

Selain bisa memperoleh pendapatan dari media-media berita online, kita juga bisa mendapatan penghasilan dengan berbagai cara. Mulai dari menjadi penulis lepas pada beberapa website, sampai dengan menjadi kontributor berita sepakbola di media online khusus olahraga. 


Pelatihan jurnalisme yang diselenggarakan oleh Arkademi, memang telah membuka mata saya akan dunia kepenulisan. Dunia yang bagi saya, seolah menjadi jalan keluar dari berbagai macam masalah yang menimpa sejak masa pandemi ini. 

Tentu saja, bagi saya ini semua masih permulaan dari jalan panjang yang membentang. Namun begitu, saya sangat menikmati perjalanan panjang ini. Terima kasih Arkademi, yang telah memberikan secercah harapan ditengah keterpurukan yang sedang saya alami.



Disclaimer : Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meningkatkan Kompetensi Guru, Solusi Untuk Masalah Pemberhalaan Nilai Ujian

3 Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Mengadopsi Hewan Piaraan

ASUS OLED, Solusi Optimal Untuk Mendukung Proses Pembelajaran Jarak Jauh