Program Imunisasi COVID-19, Penyelamat Keluarga Indonesia dari Kematian Akibat Badai Pandemi

Sumber Foto: KRJOGJA
Pagi itu, suasana kantor terlihat masih sepi. Aku pun masih termenung menatap keluar jendela kantor, ketika tiba-tiba hp-ku berdengung. Seketika kulirik layar hp-ku, ternyata ada pesan WA dari Ibuku di rumah. “Gi, mas Heru meninggal tadi jam 07.20,” begitu pesan yang masuk.

Seketika itu juga, rasa sedih menyelimuti diriku. Belum genap dua minggu yang lalu kami masih saling berjumpa. Ketika itu ia berkunjung ke rumah kami untuk mengambil sofa yang rusak. Sofa yang sudah puluhan tahun menghuni ruang tamu kami itu, memang sudah saatnya untuk diperbaiki. 

Entah kenapa, pada hari itu aku keluar dari kamarku, dan membantunya menaikkan sofa itu ke atas truk kecil yang disewanya. 

Masih teringat dengan jelas kata-kata dari sepupuku itu kepada Ibuku. “Tenang saja tante, nggak sampai sebulan juga sudah kelihatan kayak baru lagi kok,” demikian katanya sambil tersenyum riang. Sama sekali tidak ada pikiran, bahwa itu terakhir kalinya kami bertemu dengan dia.

Kurang lebih seminggu kemudian, kami mendengar kabar bahwa dia telah terjangkit penyakit itu. Penyakit laknat yang telah menjadi momok bagi warga dunia ini. Tidak sampai empat hari di rumah sakit, maut pun menjemputnya. Bagaikan ular berbisa yang mengendap-ngendap di kegelapan malam, COVID-19 varian Delta memang sangat mudah menular dan membunuh setiap mangsanya.

Kepergian sepupuku itu memang membawa kedukaan yang besar bagi keluarga besar kami. Sama sekali tidak pernah terpikirkan bahwa salah satu dari kami yang akan menjadi korban dari pandemi ini.

Kami akui bahwa pemberitaan mengenai pandemi COVID-19 ada di mana-mana. Baik di portal-portal berita maupun media sosial, sudah banyak sekali informasi mengenai pandemi yang sedang berlangsung. 

Pemerintah pun melalui berbagai saluran telah mengupayakan untuk mengedukasi masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung. Belum lagi informasi-informasi yang disampaikan oleh para tokoh masyarakat dan influencer yang tersebar di mana-mana. Pokoknya informasi mengenai pandemi ini sudah begitu masifnya, sehingga rasanya tidak ada yang terlewatkan.

Namun ketika itu rasanya semua informasi tersebut, masih kami anggap ringan. Terkadang kami pun masih lalai dalam menjaga prokes. Lupa memakai masker, tidak menjaga jarak dan jarang mencuci tangan, semuanya itu masih menjadi keseharian kami semua.  

Kami merasa walaupun berita tentang pandemi ada di mana-mana, dan banyak sekali yang telah menjadi korban, namun bahaya akan kematian hanyalah sekedar kata-kata di dunia maya.

“Kita kan selalu menjaga asupan makanan yang bergizi. Kita kan selalu berolahraga. Masa sih, bisa kena. Kita sehat, kok,” begitu pemikiran kami semua ketika itu. Rasanya sungguh mustahil, penyakit itu akan bisa menghampiri kami.

Namun kejadian yang menimpa sepupuku tersebut membuat kami semua tersentak. Bahaya kematian, bukan lagi tidak nyata. Bukan lagi sekedar kata-kata yang diucapkan oleh para influencer terkenal di sosial media. 

Tapi bahaya itu telah menjadi realitas yang tak terelakkan. Bahkan bahaya itu telah masuk, dan berada di tengah-tengah keluarga kami.

Sekarang kecemasan pun menjadi bagian yang nyata dari kehidupan kami sekeluarga. Tidak ada lagi bepergian ke pasar, ke mall ataupun pelesiran keluar kota. 

Dan tidak ada lagi keinginan untuk memenuhi hasrat dari hobiku, untuk menonton film di bioskop. Bahkan sebisa mungkin untuk belanja kebutuhan sehari-hari pun dilakukan secara online.

Jika sebelumnya aku selalu mengeluh jika tiba gilirannya harus WFH, maka sekarang aku justru sering mengusulkan kepada pihak HRD, untuk bisa bekerja dari rumah saja.

Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau dan setuju atau tidak setuju, perubahan terhadap gaya hidup telah menjadi sesuatu yang tak terelakkan. Suatu gaya hidup yang penuh dengan keterbatasan, ditengah-tengah kondisi kedaruratan memang sangat tidak mengenakkan.

Tepat pada awal tahun 2021, timbullah secercah harapan. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan, mulai menjalankan program imunisasi COVID-19, Untuk Indonesia Yang Lebih Sehat. Program ini tentu disambut dengan antusias oleh masyarakat, karena ada setitik harapan untuk bisa segera menyelesaikan masa pandemi ini.

Harapan untuk bisa bekerja normal kembali, berkumpul dengan teman dan saudara setiap waktu dan bisa bepergian kemana pun dengan bebas, seolah-olah menjadi oase harapan ditengah-tengah kehausan masyarakat akan kehidupan lamanya.

Haus akan hidup yang normal dan ditambah lagi dengan kecemasan akan terpapar dengan penyakit inilah, yang membuat antusiasme masyarakat terhadap program imunisasi ini menjadi sangat besar.

Dimana-mana terlihat antrian panjang, orang-orang yang berusaha mendapatkan imunisasi COVID-19. Bukan hanya di tempat-tempat sentra kesehatan seperti puskesmas atau rumah sakit saja, namun sampai ke stadion olahraga dan mall-mall juga akhirnya didirikan sentra vaksinasi.

Pemerintah dengan segala daya dan upaya, terus berusaha menyediakan vaksin demi memenuhi animo yang tinggi akan program ini. Kementerian Kesehatan terus bekerja sama dengan beberapa pihak agar dapat memaksimalkan program ini. 

Bantuan dari TNI dan POLRI melalui seluruh Kodam dan Polres/Polsek di seluruh wilayah tanah air, sangat berperan dalam meningkatkan angka orang yang tervaksinasi per harinya. Pada medio tahun 2021, tidak jarang angka vaksinasi ini bisa mencapai lebih dari dua juta orang per harinya. Suatu angka yang rasanya hampir mustahil dicapai jika tidak ada kerjasama dengan berbagai pihak. 

Melihat antusiasme yang sedemikian besar di sekeliling kami, maka kami sekeluarga langsung memutuskan untuk ikut langsung mendapatkan imunisasi COVID-19. Yang menjadi prioritas utama kami, tentu saja adalah kedua orang tua kami.

Kami cukup bersyukur karena puskesmas terdekat, juga sangat mengutamakan kaum lansia ini. Tepat pada awal bulan Maret dan April 2021, kedua orang tua kami telah mendapatkan suntikan pertama dan kedua vaksin ini.

Hal ini kemudian juga disusul oleh anggota keluarga besar lainnya. Program imunisasi COVID-19 ini seolah-olah menjadi semilir angin segar, di tengah-tengah panasnya kemarau kecemasan yang selalu menghantui keluarga kami, setelah meninggalnya salah satu anggota keluarga karena penyakit ini.

Secercah harapan yang dibawa oleh program imunisasi COVID-19 ini, seolah-olah membangkitkan kembali semangat seluruh masyarakat dari keterpurukan yang sedang terjadi. Dan ini tidak terkecuali juga terjadi dengan diri kami sekeluarga.

Banyak anggota keluarga yang secara aktif dan sukarela berusaha mengajak anggota keluarga lainnya, untuk segera mendapatkan imunisasi ini. Selain berusaha mengajak orang di sekitar kita untuk segera mendapatkan vaksin, aku pun turut aktif menjadi panitia di sebuah sentra vaksinasi.

Sentra vaksinasi ini didirikan oleh sekelompok alumni Sekolah Menengah Atas Negeri 8 Jakarta. Biasanya kami mengadakan event #imunisasi #COVID-19 di mall-mall di seputaran Jakarta Selatan.

Bisa kami lihat langsung, betapa tingginya animo masyarakat untuk mendapatkan imunisasi COVID-19 ini. Antrian panjang selalu menghiasi event-event yang kami adakan pada akhir minggu.

Namun sayangnya, di tengah-tengah optimisme yang sedang memuncak akan segera berakhirnya pandemi ini, kita semua harus menerima kenyataan yang berbeda. Datangnya gelombang ketiga COVID-19 yang ditandai dengan masuknya varian Omicron ke Indonesia, seakan-akan memupus harapan banyak orang untuk segera melihat berakhirnya pandemi ini.

Dan yang lebih parahnya lagi bagi kami sekeluarga, kali ini banyak anggota keluarga yang tertular dengan varian ini. Kejadian ini diawali oleh terpaparnya adik kandungku oleh teman di kantornya. 

Sebagai orang-orang yang dianggap sebagai kontak erat, kami langsung melaporkan diri ke ketua RT setempat, yang kemudian meneruskannya ke puskesmas terdekat.

Tidak sampai sehari, puskesmas langsung mendaftarkan kami untuk bisa mendapatkan tes PCR secara gratis. Tes PCR secara gratis ini bisa berlaku untuk semua anggota keluarga yang tergolong dalam kontak erat tadi.

Tes secara gratis ini tentu saja sangat meringankan bagi kami sekeluarga. Bisa dibayangkan jika kami harus membayar semua tes tersebut, akan sangat banyak biaya yang harus dikeluarkan.

Kurang lebih 24 jam setelah pengambilan spesimen, hasilnya bisa langsung didapat melalui pesan singkat di Whatsapp. Dan kami semua harus menerima kenyataan pahit bahwa ada dua anggota keluarga yang telah positif terpapar. Termasuk diantaranya adalah aku sendiri.

Perasaan khawatir dan cemas kembali menghantui aku sekeluarga. Apalagi selain aku sendiri, salah satu orang lain yang terkena adalah Bapak kami.

Saat ini Bapak kami telah berusia mendekati 80 tahun. Suatu usia yang cukup rentan jika sampai terpapar COVID-19. Apalagi berbeda dengan aku yang hanya bergejala ringan, Bapak sempat mengalami panas tinggi selama kurang lebih 24 jam.

Setelah berkonsultasi dengan dokter di puskesmas terdekat, maka diputuskan agar adik aku dirawat di Wisma Atlet, Kemayoran Jakarta. Sedangkan aku dan Bapak, diputuskan untuk menjalankan isolasi mandiri di rumah kami.

Dengan waktu yang cukup singkat, para dokter di puskesmas juga langsung meresepkan obat-obatan secara gratis untuk kami berdua. Obat-obatan itu langsung tersedia, tidak sampai 12 jam sejak kami dinyatakan positif #COVID-19 oleh pesan Whatsapp dari Kementerian Kesehatan. 

Setiap harinya, selalu ada staf dari puskesmas yang melakukan pemantauan secara online. Tidak kurang dari dua kali sehari, ia selalu meminta kami untuk mengukur suhu dan kadar oksigen dalam darah, dan langsung mengirimkannya melalui Whatsapp ke puskesmas setempat.

Selain itu, pihak puskesmas juga tidak lupa selalu memantau ketersediaan obat-obatan kami semua. Mereka selalu memantau gejala-gejala yang terjadi pada kami berdua, dan mengingatkan kami untuk selalu mengkonsumsi obat-obatan tepat waktu.

“Rasanya kok kayak punya dokter dan suster pribadi ya,” demikian ujar Bapakku sambil tersenyum ketika kondisinya sudah membaik. 

Yah, memang setelah melewati masa waktu 11 hari, kondisi kami berdua pun sudah cukup membaik. Tidak ada gejala apapun yang masih menyertai. Status kami di aplikasi PeduliLindungi pun, sudah kembali hijau setelah sebelumnya hitam. 

Dan yang membuat kami sekeluarga cukup berbahagia, adik aku pun sudah dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang dari Wisma Atlet.

Kami sekeluarga sangat beruntung bisa melewati badai Omicron ini dengan selamat. Ini semua tentu tidak lepas dari dukungan puskesmas setempat yang telah sangat sigap dan super cepat dalam menolong kami sekeluarga.

Dan tentu saja kami juga sangat bersyukur telah mendapatkan imunisasi COVID-19 secara lengkap. Rasanya tanpa imunisasi tersebut, nasib kami tidak akan sebaik saat ini. Bagi kami sekeluarga, #imunisasi #COVID-19 telah terbukti memberikan proteksi yang optimal jika kita sampai terpapar dengan virus COVID-19.

Tentunya sangat besar harapan kita semua agar kita bisa segera mengendalikan pandemi ini. Tampaknya untuk Indonesia yang lebih sehat, kita harus bisa hidup berdamai dengan virus ini. Sehat Negeriku, Sehatlah Bangsaku.


=========================

Penulis Artikel: Bogi Periklas
Sumber Artikel: Pengalaman pribadi
Sumber Foto: KRJOGJA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meningkatkan Kompetensi Guru, Solusi Untuk Masalah Pemberhalaan Nilai Ujian

3 Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Mengadopsi Hewan Piaraan

ASUS OLED, Solusi Optimal Untuk Mendukung Proses Pembelajaran Jarak Jauh