Turut Merayakan Lebaran, di Tengah-Tengah Kebinekaan Bertetangga

Turut Merayakan Lebaran, di Tengah-Tengah Kebinekaan Bertetangga
Adzan maghrib sudah menggema, ketika Ibuku mulai menyiapkan beberapa rantang dan piring di meja makan. “ Ayo bantuin Ibu. Sebentar lagi kan para tetangga akan mengirimkan hantaran Lebaran, kayak tahun lalu,” seru Ibuku.

Ya, ini adalah hari terakhir umat Islam berpuasa di bulan Ramadan ini. Walaupun keluarga kami bukanlah pemeluk agama Islam, namun dalam hidup bertetangga, kami juga turut merayakan Lebaran bersama-sama tetangga di sekitar rumah.

Sudah menjadi tradisi berpuluh tahun bahwa jika sedang hari raya, maka umat yang merayakannya akan membagikan makanan ke tetangganya yang berlainan keyakinan. Ketika hari Natal tiba, kami pun selalu membagikan makanan atau kue ke beberapa tetangga yang berdekatan.

Nah di hari terakhir bulan puasa ini, giliran para tetangga kami yang muslim untuk membagikan makanan kepada kami. Tidak kurang dari empat keluarga yang memberikan hantaran makanan kepada keluarga kami.

Yang membuat hantaran tersebut terasa istimewa adalah bukan hanya karena merupakan makanan yang dimasak sendiri oleh mereka. Namun juga karena makanan tersebut merupakan masakan khas, dari daerah masing-masing keluarga yang memberikan. Walaupun ketupat merupakan komponen utamanya sebagai pengganti dari nasi, namun untuk lauknya sungguh sangat beraneka ragam. 

Ada tetangga yang memberikan ketupat sayur ala Jawa, lengkap dengan lauk pauknya. Lauk pauknya ini terdiri dari opor ayam kuning, sambal ati kentang dan sayur labu siam. Tidak ketinggalan sambal dan kerupuk udang juga menyertainya. Karena makanan ini asli dari Jawa, maka rasanya didominasi manis dan pedas. Rasanya sangat familiar di lidah kami, yang kebetulan juga bersuku Jawa.

Hantaran kedua yang datang, rupanya berasal dari tetangga sebelah rumah. Kali ini hantarannya berupa ketupat sayur ala Minang. Sayurannya dibuat dari sayur nangka muda yang diberikan santan cukup encer.

Tidak lupa sebagai lauknya, turut menyertai rendang daging dan telur yang empuk dan pedas, ala masakan restoran Padang. Bisa dijamin, lidah kita akan ikut bergoyang ketika melahapnya nanti.

Tanpa menunggu terlalu lama, kembali terdengar bel pagar rumah kami berbunyi. Kali ini yang datang berupa hantaran masakan khas Sunda. Masakan nya bukan berupa ketupat sayur, namun berupa nasi tutug oncom. Dan sebagai lauk pauknya, turut menyertai ayam dan tahu tempe goreng. 

Tidak lupa sambal dan sayur mentah lalapan turut menyertai hamparan tersebut. Sebetulnya ini merupakan hantaran yang cukup unik, karena keluar dari pakem hidangan khas Lebaran yang biasanya adalah berupa ketupat sayur. 

Turut Merayakan Lebaran, di Tengah-Tengah Kebinekaan Bertetangga
Namun dari semua hantaran tersebut, hantaran yang paling spesial adalah hantaran ketupat sayur ala Betawi. Hantaran ini tentu saja diberikan oleh salah seorang tetangga yang asli Betawi. Masakan ini, biasanya terdiri dari sayur godog dan semur daging.

Yang membuat masakan ketupat sayur khas betawi ini menjadi sangat spesial adalah pada lauk semurnya. Lauk semur ini bukan dibuat dari daging ayam atau sapi, namun dari daging kerbau. Rasa daging kerbau yang berserat dan gurih itu akan bercampur dengan aroma rempah-rempahan yang cukup harum.

Konon katanya, semur daging kerbau ini, memang hanya disajikan pada hari raya Lebaran saja. Dan katanya lagi, resep semur ini merupakan resep dari kaum Betawi yang masih ada keturunan Arab. Makanya tidak heran jika campuran bumbu rempah-rempah nya sangat terasa di lidah. Terutama sekali rasa rempah ladanya yang cukup tajam, namun nikmat di lidah. Semur istimewa ini, dijamin akan bisa membuat kita yang memakannya akan menjadi ketagihan dibuatnya.

Tentu saja, mencium dan melihat lezatnya hidangan ini, akan membangkitkan nafsu makan kita. Tanpa terasa, sudah hampir 2 piring makan masuk ke dalam perut. Jika tidak mengingat jatah untuk anggota keluarga yang lain, rasanya saya sendiri akan sanggup untuk menghabiskan seluruh kiriman makanan yang sangat spesial itu.

Namun tanpa disadari, setelah memakan hampir dua piring ketupat ala Betawi tersebut, lambung bagian atas mulai terasa tidak nyaman. Tentu saja ketidaknyamanan ini sangat mengganggu suasana makan malam tersebut. Nampaknya gejala dispepsia telah menyerang diriku. Tanpa menunggu terlalu lama, Ibuku langsung menyodorkan satu tablet New Enzyplex. 

“Nih, langsung diminum ya,” katanya sambil tersenyum. Rupanya ia memang sudah hafal dengan kebiasaanku yang sering lupa diri, jika melihat makanan yang lezat. 

Segera saja aku meminumnya, dan dalam waktu yang tidak terlalu lama, rupanya obat tersebut sudah mulai bereaksi. Rasa nyeri yang menyerang lambungku pun berangsur membaik. Perut pun terasa nyaman saat rayakan hari raya kemenangan bersama New Enzyplex.

Tradisi mengirimkan hantaran makanan di hari raya ini sebetulnya merupakan tradisi yang sudah puluhan tahun ada. Tadinya tradisi ini hanya berlaku di masyarakat Betawi yang bertempat tinggal di sekitar rumah kami. 

Namun seiring dengan berjalannya waktu, banyak pendatang yang datang dari daerah lain, dan kemudian menetap disini. Sehingga saat ini, tradisi itu berubah menjadi tradisi pertukaran hantaran makanan antar daerah atau suku.

Turut Merayakan Lebaran, di Tengah-Tengah Kebinekaan Bertetangga
Tentu saja, kebiasaan silaturahmi ini tidak berhenti pada hantaran tadi saja. Keesokan harinya, setelah usai sholat Ied kami sekeluarga pun saling mengunjungi ke tetangga di sekitar rumah. Namun kali ini, saya sudah menyiapkan satu tablet Enzyplex di saku celana. Yah, untuk berjaga-jaga saja, jika sampai kekenyangan atas jamuan dari para tuan rumah yang kami kunjungi.

Sebetulnya yang terpenting dari tradisi ini adalah kepentingan untuk selalu menjalin silaturahmi. “Hantaran makanan kan cuma sebagai alasan saja. Yang penting itu, ngobrolnya,” demikian ujar Ibuku setiap kali usai menerima hantaran.

Ya karena padatnya kesibukan tiap orang, maka hari raya bisa menjadi salah satu ajang untuk bisa bersilaturahmi, dan mempererat persahabatan dengan orang-orang di sekeliling kita. 

Pada momen hari raya Lebaran ini tidak ada lagi sekat yang menjadi jurang pemisah. Tidak peduli kaya atau miskin, mempunyai kedudukan tinggi atau tidak, warga asli atau warga pendatang. Semuanya membaur menjadi satu melalui silaturahmi hantaran makanan khas Lebaran tadi. Pada akhirnya, kami semua disatukan dalam kegembiraan yang sama dalam hari yang suci ini, hari raya Idul Fitri.

================================

Artikel ini diikutsertakan dalam Enzyplex Writing Competition bersama Indonesian Food Blogger


Postingan populer dari blog ini

Meningkatkan Kompetensi Guru, Solusi Untuk Masalah Pemberhalaan Nilai Ujian

3 Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Mengadopsi Hewan Piaraan

ASUS OLED, Solusi Optimal Untuk Mendukung Proses Pembelajaran Jarak Jauh